Kamis, 31 Mei 2012

Berilah Pikiran Kita "Makanan" yang Bergizi | Motivasi Diri



Apa Yang Kita Konsumsi Itulah Kita!



Seseorang yang dominan memakan sayuran dan buah-buahan (vegetarian) umumnya memiliki aroma tubuh yang lebih baik dibanding mereka yang lebih banyak mengkonsumsi daging. Seseorang yang dominan minum minuman berakohol cenderung memiliki “attitude” yang kurang dapat mengendalikan perilakunya secara bijaksana.

Kita sangat banyak dipengaruhi apa yang kita konsumsi. Dan yang saya maksud dengan mengkonsumsi di sini bukan hanya terbatas dari apa yang kita masukkan ke mulut kita, namun yang terpenting adalah apa yang kita masukkan ke PIKIRAN kita.

Jika kita dominan mendengarkan kebencian yang disampaikan orang-orang di sekitar kita pada saat yang sama kita menyetujui kebencian tersebut dengan turut merasakan kebencian, maka hidup kita secara logis akan dipenuhi hal-hal yang kita benci. Sebagai contoh, jika kita dikelilingi orang-orang yang suka menceritakan aib orang lain dan pada saat yang sama kita menyetujuinya dengan turut membenci orang yang diceritakan keburukannya tersebut, kita mengundang keburukan itu datang ke diri kita dan kehidupan kita.

Namun, jika kita tidak menyetujui ucapan orang-orang yang menceritakan keburukan orang lain dengan membenci orang yang menceritakan aib tersebut, itu juga berarti kita membenci si “pembicara” tersebut.

Sikap yang dapat kita ambil jika kita sering mengalami kejadian yang banyak terjadi seperti ini adalah:

1. Tidak mengijinkan diri kita turut membenci orang yang sedang diceritakan keburukannya tersebut beserta perilakunya. Cintai sesama tanpa syarat.

2. Tidak membenci orang yang membicarakan keburukan orang lain tersebut, dan tidak juga membenci perilakunya. Jangan memberikan perasaan apapun pada hal-hal yang kita tidak senangi.

3. Jika bisa tanpa menyinggung si pembicara, alihkanlah topik pembicaraan. Jika tidak bisa, diam. (Ini yang saya sering lakukan)

Ingatlah:

“Kebencian tidak dapat dipadamkan dengan kebencian. Kebencian dipadamkan dengan cinta, kasih.”


Apa yang layak kita konsumsi untuk pikiran kita?


Kita dapat mengisi waktu kita sepanjang hari dengan mengkonsumsi bacaan yang memicu kita untuk dominan merasakan kebahagiaan.

1. Daripada membaca berita tentang korupsi bacalah berita tentang pejabat yang memperjuangkan kesejahteraan warganya.

2. Daripada membaca berita tentang tawuran anak SMA, bacalah tentang anak SMA yang mendominasi emas di olimpiade sains tingkat dunia.

3. Daripada membaca berita tentang kelaparan orang-orang miskin, bacalah berita tentang orang miskin yang berjuang memperbaiki hidupnya dan sekarang menjadi tidak kelaparan lagi!

4. Daripada membaca cerita tentang tomcat, ketakutan, kesedihan, kebencian, dan penghakiman, bacalah cerita motivasi yang dapat menginspirasi kita agar menemukan makna lain pada suatu peristiwa dibanding apa yang kebanyakan orang pikirkan.

5. a. Daripada  menonton berulang-ulang berita tentang bencana dan kecelakaan pesawat, ambillah wudhu dan berdoalah untuk para korban dan keluarga yang ditinggalkan.

b. Daripada berkata “kasihan” pada para korban gempa, ambilah kartu ATM dan transferlah sejumlah uang. Jika tidak bisa, diam.

6. Daripada menghujat artis dangdut koplo dan Lady Gaga, didiklah anak kita agar berpakaian yang sopan.

7. Daripada menyalahkan anak kita yang memiliki prestasi buruk di sekolah, ambillah cermin dan bertanyalah pada diri sendiri: “Apa kekurangan saya sebagai orang tua?” dan “Bagaimana cara saya dapat membimbing anak saya menjadi lebih baik?”

8. Daripada membenci anggota DPR yang tidur saat sidang, ambilah cermin dan bertanya pada diri sendiri: “Apa yang dapat saya lakukan untuk negeri ini?”

Cerita Motivasi
Baca Selengkapnya - Berilah Pikiran Kita "Makanan" yang Bergizi | Motivasi Diri

Sabtu, 19 Mei 2012

Bahasa Indonesia: Penggunaan Kosakata Serapan

Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia


Bahasa Indonesia yang berakar dari Bahasa Melayu Riau dan diperkaya oleh kosakata dari bahasa-bahasa daerah lainnya ditambah dengan sekian banyak kosakata bahasa-bahasa asing adalah satu dari jati diri kita sebagai satu bangsa terbesar ke-4 di dunia.

Orang-orang Indonesia

Kosakata Serapan dari Bahasa Asing

Sebagai bahasa yang masih mengalami banyak perkembangan, Bahasa Indonesia termasuk bahasa yang paling aktif menyerap kosakata dari bahasa asing. Kosakata bahasa asing yang paling banyak diserap ke dalam kosakata Bahasa Indonesia pun mengikuti perkembangan sejarah.

Bahasa Sansekerta


Bahasa Sansekerta yang didukung oleh perkembangan kebudayaan India terutama Hindu dan Buddha adalah bahasa asing pertama yang paling mempengaruhi perkembangan bahasa-bahasa di Nusantara pada masa sebelum perkembangan pesat Islam di Indonesia. Karena peradaban Hindu-Buddha begitu mengakar di Nusantara selama lebih dari 1000 tahun maka kosakata dari Bahasa Sansekerta pun nyaris tidak dianggap berasal dari kebudayaan luar, melainkan berpadu dengan budaya Nusantara sendiri. Seperti saat kita mengacu pada Bahasa Jawa Kuno.
Bahkan di masa setelah kemerdekaan Indonesia saat ini, kosakata Bahasa Sansekerta banyak sekali digunakan untuk istilah-istilah yang benar-benar baru dalam merujuk sesuatu yang sebenarnya baru ada pada masa kini. Seperti kata-kata yang mengandung unsur kata: wisma, pramu, griya, graha, dsb. Konsep “pramugari” kan baru ada pada masa kini. Namun karena kosa kata yang berasal dari Bahasa Sansekerta dianggap memiliki keunggulan dari kekayaan kosakata dan nilai “rasa” yang baik dan sopan, maka kosa kata dari bahasa ini banyak dipilih oleh para ahli bahasa kita. Dalam hal ini saya sangat setuju.

Bahasa Arab


Sesuai perkembangan Islam yang begitu pesat menggeser peradaban Hindu dan Buddha di Indonesia, maka semakin banyak pula kosakata serapan yang diambil dari Bahasa Arab sebagai bahasa pemersatu umat Islam. Penyebab utama adalah konsep. Ada banyak konsep ajaran Islam yang memang hanya sesuai untuk diungkapkan dengan istilah dari Bahasa Arab. Namun ada banyak juga sebanarnya kosakata kita sehari-hari yang berasal dari bahasa Arab. Seperti: kursi, fakir, sedekah, rezeki, dsb.
Kosakata Bahasa Arab sangat mempengaruhi perkembangan Bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang kita kenal sekarang tentu akan sangat berbeda jika tidak menyerap sekian banyak kosakata dari Bahasa Sansekerta dan Bahasa Arab. Kedua bahasa ini adalah bahasa-bahasa asing yang banyak kosakatanya tidak dianggap asing oleh orang Indonesia.

Bahasa Asing Lainnya (Belanda, Portugis, Dialek-dialek Mandarin, dsb)


Mungkin jika kita mendengar kosakata serapan dari bahasa-bahasa asing selain Bahasa Sansekerta dan Arab, kita lebih sadar bahwa kosakata tersebut adalah kosakata serapan. Ada banyak juga sih, kosakata yang sudah sangat Indonesia, seperti:
Dari Bahasa Belanda: supir (chauffeur), apel (appel), bioskop (bioscoop), buku (boek), rokok (roken)
Dari Bahasa Portugis: bendera (bandeira), gereja (igreja), kamar (camara), nina (spt. dalam “nina bobo”) (menina): anak perempuan kecil
Dari Bahasa Tionghoa: bakso, kuli (苦力), gincu (胭脂=pewarna), mangkok (碗鍋), mi (面)
Rujukan: Wikipedia

Bahasa Inggris


Karena masa penyerapannya yang paling mendekati masa kini, jelas kosakata serapan dari Bahasa Inggris adalah yang paling mudah untuk kita kenali sebagai kosakata serapan. Seperti: kualitas, download, upload, presiden, komputer, ponsel, kabel, motor, dsb. Sebenarnya semua bahasa pun saling menyerap kosakata dari bahasa lain untuk saling melengkapi perbendaharaan, tak terkecuali Bahasa Inggris.
Jelas ada sangat banyak istilah yang memang harus menyerap kosakata Bahasa Inggris karena perkembangan teknologinya memang berasal dari negara yang menggunakan Bahasa Inggris. Dan ada banyak sekali istilah bahasa Inggris yang terdengar agak rancu jika kita cari padanannya dari kosakata Bahasa Indonesia. Seperti komputer, apa coba padanannya yang tepat dalam Bahasa Indonesia? Mungkin hanya dapat kita berikan definisi namun bukan satu kata yang dapat menggambarkan benda tersebut.
Ada banyak usaha untuk mengganti padanan kosakata Bahasa Inggris menjadi lebih Indonesia. Seperti: download menjadi unduh, upload menjadi unggah, online menjadi daring (dalam jaringan). Dua istilah pertama mungkin sudah mulai akrab kita gunakan padanan Bahasa Indonesianya. Namun istilah “online” jika diganti menjadi “daring” kok jadi agak kurang dimengerti ya apa artinya.
Sebenarnya kita tidak perlu memaksa mengganti kosakata dari Bahasa Inggris menjadi kosakata yang lebih Indonesia. Terutama yang digunakan untuk dalam dunia teknologi. Bukan mempermudah para pengguna teknologi untuk dapat lebih mengerti, namun justru lebih mempersulit. Karena perkembangan teknologi jauh lebih cepat dari perkembangan kebudayaan manusia lainnya. Jadi jika kita menghabiskan waktu untuk meng”Indonesia“kan istilah-istilah teknologi yang dominan berasal dari Bahasa Inggris, kita sebagai bangsa akan terus tertinggal dalam hal teknologi.

Penggunaan Kosakata Serapan yang Tidak Perlu


Ada kekurangtahuan kita dalam berbahasa Indonesia yang baik dan benar. Mungkin ada sedikit ego yang ingin menunjukan bahwa kosakata yang kita miliki adalah lebih baik dari lawan bicara.
Ada banyak kata serapan dari Bahasa Asing yang sebenarnya sangat tidak diperlukan dimasukkan ke dalam Bahasa Indonesia. Selain karena sudah ada kosakata Bahasa Indonesia untuk konsep-konsep itu, ada banyak dari kosakata tersebut yang kurang dimengerti orang Indonesia.
Kata “kualitas” sebenarnya tidak perlu diserap karena kata “mutu” sudah mewakili konsep tersebut. Kata “jumlah” adalah lebih baik dari “kuantitas”. Kata talent atau “talenta” tidak perlu diserap karena Bahasa Indonesia sudah memiliki kata “bakat“. Kata “perputaran” tidak perlu diganti dengan “sirkulasi“. Kata “rekan” itu lebih baik dari kata serapan “kolega“.
Kata-kata yang membuat pusing pendengar sebaiknya tidak digunakan, karena kita dapat menggunakan kosakata Bahasa Indonesia yang sudah ada. Seperti kata: sporadis, anomali,  akselerasi, akseptasi, diferensiasi, diskredit, impresif, dsb.
Tidak perlu kita menggunakan kosakata serapan dari bahasa asing jika sebenarnya telah ada kosakata untuk kosep tersebut dalam Bahasa Indonesia. Apalagi kosakata dalam Bahasa Indonesianya lebih baik, lebih singkat, dan lebih dimengerti lebih banyak orang. Untuk apa hanya karena alasan ego untuk menunjukkan bahwa diri kita itu lebih pintar dari pihak pendengar kita menggunakan kosakata yang hanya sedikit orang yang mengerti.
Kosakata serapan itu ya kita gunakan jika memang kosakata Bahasa Indonesia yang ada tidak dapat menjelaskan dengan baik konsep yang kita maksud.


Teddy Amry
Baca Selengkapnya - Bahasa Indonesia: Penggunaan Kosakata Serapan